Sutan Nasomal Desak Presiden RI Waspadai Reaksi Alam: Ancaman Bencana Hujan Mikroplastik dan Salah Kelola Negara
JAKARTA| umardaninews.com— Prof Dr Sutan Nasomal, SE, SH, MH, Pakar Hukum Internasional sekaligus Presiden Partai Oposisi Merdeka, menyampaikan peringatan keras kepada Presiden Republik Indonesia Jenderal TNI (Purn) H. Prabowo Subianto terkait meningkatnya ancaman reaksi alam yang berpotensi berubah menjadi bencana besar, salah satunya fenomena hujan yang mengandung mikroplastik di Indonesia.
Peringatan tersebut disampaikan Prof Dr Sutan Nasomal saat menjawab pertanyaan para pemimpin redaksi media cetak dan online, baik nasional maupun internasional, di Markas Pusat Partai Oposisi Merdeka, Jakarta, Sabtu (11/1/2026).
Menurutnya, krisis lingkungan yang kini dihadapi Indonesia tidak dapat dilepaskan dari lemahnya tata kelola pemerintahan, terutama penempatan pejabat yang tidak sesuai dengan disiplin ilmu dan kompetensinya.
“Banyak pejabat tidak memahami tupoksi jabatannya secara mendalam. Alih-alih menyempurnakan program yang sudah ada, justru mengubahnya dari nol. Ini bukan terobosan, tetapi kesalahan kebijakan yang menimbulkan kegaduhan dan risiko jangka panjang bagi negara,” tegas Prof Dr Sutan Nasomal.
Ia menilai Presiden RI perlu segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap jajaran menteri, wakil menteri, hingga pejabat strategis lainnya agar setiap kebijakan negara dijalankan oleh figur yang benar-benar memahami dampak ekonomi, sosial, dan ekologis dari setiap keputusan.
Hujan Mikroplastik, Alarm Keras Krisis Lingkungan
Prof Dr Sutan Nasomal menyoroti temuan ilmiah mengenai hujan yang mengandung mikroplastik di sejumlah wilayah Indonesia sebagai alarm keras kegagalan negara dalam melindungi lingkungan hidup.
“Secara ilmiah, hujan mikroplastik terjadi karena udara sudah tercemar partikel plastik dari berbagai sumber. Tanah dan air kita juga telah terkontaminasi berat. Ini bukti bahwa pencemaran sudah berada pada level berbahaya dan dibiarkan terlalu lama,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, penggunaan plastik secara masif sejak tahun 1970-an, ditambah penggunaan styrofoam yang tidak terkendali sejak era 2000-an hingga saat ini, telah menyebabkan akumulasi limbah yang mencemari sungai, laut, dan lapisan tanah.
“Plastik dan styrofoam sulit terurai. Ia mengendap di tanah, terbawa aliran air, meracuni air tanah, sungai, hingga laut. Dalam jangka panjang, ekosistem laut terancam kolaps dan sumber pangan manusia bisa hancur,” jelasnya.
Ancaman Udara Beracun dan Krisis Kesehatan
Lebih jauh, Prof Dr Sutan Nasomal mengingatkan bahwa polusi udara akibat emisi kendaraan dan industri yang terus meningkat berpotensi menjadikan udara perkotaan sebagai ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.
“Bila dalam 10 tahun ke depan udara menjadi sangat beracun, maka risiko penyakit berat akan meningkat dari anak-anak hingga orang dewasa. Ini konsekuensi dari pembangunan tanpa kendali dan tanpa analisis risiko,” katanya.
Ia menegaskan, pemberian jabatan strategis kepada individu yang tidak memiliki keahlian di bidang lingkungan, energi, dan tata ruang merupakan kesalahan fatal yang mempercepat kehancuran ekosistem.
Salah Tata Ruang dan Penurunan Tanah
Dalam kesempatan itu, Prof Dr Sutan Nasomal juga menyoroti kesalahan tata ruang kota, khususnya pembangunan yang terlalu dekat dengan wilayah pesisir. Ia menyebut penurunan tanah di banyak kota pesisir sebagai bukti nyata kegagalan perencanaan jangka panjang.
“Kota-kota dibangun seperti hutan beton di atas tanah yang terus dibebani. Rata-rata penurunan tanah bisa mencapai 15 meter dalam 50 tahun. Ini sangat berbahaya, terlebih bila terjadi gempa besar atau tsunami,” ujarnya.
Ia menambahkan, kerusakan hutan akibat alih fungsi lahan, termasuk menjadi perkebunan skala besar, telah menghilangkan fungsi alam sebagai penyimpan air, penghasil oksigen, dan penyangga kehidupan.
Alam Bisa Menjadi Lawan Manusia
Prof Dr Sutan Nasomal menegaskan bahwa alam akan selalu memberikan reaksi ketika keseimbangannya terganggu.
“Bencana adalah alarm alami. Jika hujan kelak berubah menjadi racun, maka biaya pemulihan bisa memakan waktu hingga 200 tahun dengan anggaran ribuan triliun rupiah. Apakah kehancuran seperti ini yang ingin diwariskan kepada generasi penerus bangsa?” pungkasnya.
Ia menyerukan agar pemerintah menjadikan ilmu keseimbangan alam sebagai dasar utama dalam setiap kebijakan pembangunan, sebelum reaksi alam berubah menjadi kehancuran yang tidak dapat dikendalikan.
Narasumber:
Prof Dr Sutan Nasomal, SE, SH, MH
Pakar Hukum Internasional & Presiden Partai Oposisi Merdeka
( Red)