Waspada Penipuan Berkedok Hadiah, Masyarakat Diminta Tidak Mudah Percaya Klaim Tokoh Publik
PALEMBANG||umardaninews.com-Maraknya penipuan digital kembali menjadi perhatian serius. Modus terbaru yang kerap digunakan pelaku adalah mengatasnamakan artis atau tokoh publik untuk meyakinkan calon korban, disertai janji hadiah besar yang sebenarnya tidak pernah ada.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pelaku kejahatan siber semakin lihai memanfaatkan psikologi korban. Dengan menciptakan rasa senang sekaligus mendesak, penipu berusaha menurunkan kewaspadaan agar korban segera mentransfer sejumlah uang yang disebut sebagai “biaya administrasi”, “pajak hadiah”, atau alasan lainnya.
Pengamat keamanan digital menilai, pola seperti ini hampir selalu berujung pada penipuan. Terlebih jika dalam komunikasi terdapat tekanan agar korban bertindak cepat tanpa memberi ruang untuk berpikir atau melakukan verifikasi.
“Jika seseorang mendapat hadiah tetapi diminta membayar terlebih dahulu, itu merupakan tanda bahaya yang sangat jelas. Masyarakat harus berani menghentikan komunikasi sebelum kerugian terjadi,” demikian imbauan yang terus digaungkan dalam berbagai kampanye literasi digital.
Beberapa ciri utama penipuan yang perlu diwaspadai antara lain pelaku mengaku sebagai figur publik, menawarkan hadiah tanpa proses yang masuk akal, meminta transfer dana di awal, serta terus mendesak korban agar segera merespons. Kombinasi tanda tersebut menjadi indikator kuat adanya upaya kejahatan.
Masyarakat yang menerima pesan mencurigakan disarankan segera mengambil langkah pencegahan, seperti memblokir nomor pelaku, melaporkannya melalui fitur pengaduan di aplikasi pesan, serta menghapus percakapan agar tidak tergoda untuk menanggapi kembali. Mengabaikan panggilan dari nomor tidak dikenal juga menjadi langkah penting untuk memutus upaya manipulasi.
Di tengah meningkatnya aktivitas digital, kewaspadaan menjadi benteng utama. Kemampuan mengenali tanda-tanda penipuan sejak awal dapat menyelamatkan seseorang dari kerugian finansial maupun tekanan psikologis.
Para ahli juga mengingatkan bahwa kejahatan siber terus berkembang, termasuk penggunaan panggilan video atau metode lain yang dirancang agar terlihat lebih meyakinkan. Karena itu, masyarakat diharapkan tidak mudah percaya pada tawaran yang terdengar terlalu baik untuk menjadi kenyataan.
Pada akhirnya, prinsip sederhana tetap relevan: verifikasi sebelum mempercayai, dan jangan pernah mengirim uang kepada pihak yang identitasnya tidak dapat dipastikan. Sikap waspada bukan berarti curiga berlebihan, melainkan bentuk perlindungan diri di era digital yang penuh risiko.
( Red)