Tribun Lapangan Sepak Bola Talang Nangka Ambruk, Sorotan Publik Mengarah ke Dugaan Proyek Asal‑Asalan dan Pengawasan Lemah
MUARA ENIM| umardaninews.com— Sebuah bangunan tribun penonton di Lapangan Sepak Bola Talang Nangka, Desa Talang Nangka, Kecamatan Lembak, Kabupaten Muara Enim, ambruk hanya beberapa waktu setelah selesai dibangun, memicu kritik tajam warga dan pengamat pembangunan terhadap kualitas proyek serta mekanisme pengawasan.
Tribun itu merupakan bagian dari paket pekerjaan yang dibiayai lewat Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Muara Enim Tahun Anggaran 2025, dengan nilai kontrak yang mencapai sekitar Rp1,18 miliar. Namun kini bangunan tersebut justru menjadi “simbol” kontroversi proyek daerah yang dinilai banyak pihak asal‑asalan dan tidak tahan lama.
Warga setempat yang ditemui media mengaku terkejut dan kecewa melihat kondisi tribun yang sudah runtuh, padahal pengerjaan baru rampung beberapa minggu lalu. Banyak bagian konblok (blok lantai) sudah mengalami retak dan bergelombang, sementara struktur tampak rapuh.
“Kalau dilihat secara teknis, hasil pekerjaannya seperti tidak mengikuti standar kualitas yang layak. Padahal dana yang digelontorkan tidak sedikit,” ujar salah seorang warga yang enggan disebut nama. “Ini bukan hanya soal ambruknya tribun, tapi soal kepercayaan publik terhadap penggunaan uang rakyat,” tambahnya.
Kritik Warga dan Aktivis: Proyek Diduga Asal Jadi
Sorotan publik tidak hanya tertuju pada kondisi bangunan yang cepat rusak, namun juga pada proses perencanaan dan pengawasan proyek tersebut. Sejumlah aktivis kontrol sosial di Muara Enim menyatakan bahwa harga pekerjaan dan kualitas pelaksanaan tidak sebanding, serta ada dugaan mark‑up anggaran dan penggunaan material yang tidak sesuai spesifikasi.
( Evan)
Perhatian juga diarahkan pada Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Muara Enim selaku instansi pengelola proyek, yang dinilai tidak menjalankan fungsi pengawasan secara ketat. “Proyek APBD harus transparan dan akuntabel. Kalau seperti ini hasilnya, jelas merugikan masyarakat,” ujar Andre K., salah satu pemerhati publik.
Pengawasan dan Evaluasi Proyek Dipertanyakan
Selain itu, sejumlah warga meminta agar Inspektorat Daerah, Kejaksaan Negeri, dan aparat penegak hukum segera melakukan audit dan penyelidikan independen atas proyek tribun ini. Mereka menilai semi‑formal pemeriksaan internal tidak cukup untuk mengungkap apakah ada pelanggaran prosedur atau penyimpangan anggaran dalam proses lelang, pemilihan kontraktor, hingga pelaksanaan pekerjaan.
Hingga berita ini diturunkan, kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Muara Enim belum memberikan klarifikasi resmi terkait ambruknya tribun maupun dugaan penyimpangan yang diangkat publik. Kontak via pesan dan telepon belum direspons, sedangkan pihak kontraktor juga belum dapat dimintai .
Dana Publik, Risiko Publik
Peristiwa ini menjadi cerminan semakin tingginya ekspektasi publik terhadap tata kelola proyek pembangunan yang bersumber dari anggaran daerah. Masyarakat menilai bahwa proyek sarana olahraga seharusnya menjadi fasilitas berkualitas yang bertahan lama dan memberikan manfaat konkret, bukan sekadar simbol peresmian yang cepat rusak.
Para pemerhati menyatakan, jika tidak ditindaklanjuti dengan serius, kasus ini berpotensi menjadi preseden buruk yang melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap transparansi anggaran daerah dan kemampuan pemerintah setempat dalam mengawal kualitas pembangunan infrastruktur publik.
( Evan)